Minggu, 29 September 2013

Haiii aku nulis lagi ya...

Hmmm... kangen banget dengan Blog ku, hehehe...

hmmmm..., kangen sekali rasanya sekian lama tidak bisa menulis di sini..., banyak "kesibukan" membuat saya tidak lagi sempat menuliskan banyak hal yang terlewati, hampir 1 tahun lebih blog ini "terbengkalai", hehehe.. tak apalah.., apa yang membuat saya tak sempat menuliskan Perjalanan Hidup selama itu tak perlulah saya ungkapkan hehehe...

bingung saya saat ini mau memulai dari mana untuk berbagi cerita dan pengalaman dalam Perjalanan Hidup ini..., banyak sekali momentum terlewatkan, tapi saya ingin berbagi tentang perjalanan yang sangat berkesan dari sekian banyak perjalanan yang saya lalui di medio akhir tahun 2011 hingga tahun 2013 ini.

Mengunjungi Pulau Sabang
di awal bulan September 2013, rencana Pimpinan mengunjugi Pulau paling Barat Indonesia sudah dipersiapkan, membayangkan pulau paling barat di benak saya harus mempersiapkan diri menghadapi medan yang tidak mudah apalagi bersama rombongan, namun masihlah menenangkan hati sebab temen-temen di daerah sudah melakukan persiapan dan sudah mengenali medan dengan baik, alhasil semua rencana telah tertata dengan rapi.

Pagi-pagi mempersiapkan chek in penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta menuju Banda Aceh, transit di Kualanamu, Medan, take off jam 07.00 dan tiba di Banda Aceh jam 11.00, kemudian lanjut menggunakan kendaraan menuju pelabuhan penyeberangan ferry Ulee Lheu, kemudian memasuki Ferry yang sudah tersedia disana.  Sekedar informasi, untuk penyeberangan ke Sabang terdapat kapal Cepat, dan juga kapal Lambat (istilah disana), kapal cepat adalah ferry khusus penumpang orang dan tidak akan membawa barang-barang dalam jumlah besar, kecuali bagasi penumpang, sedangkan kapal Lambat adalah ferry RoRo yang disamping mengangkut penumpang orang, juga mengangkut bermacam-macam barang, ada juga mobil, truk beserta muatannya dan jenis barang lainnya, waktu tempuhnya yang berbeda, jika kapal cepat membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam untuk menyeberang, maka kapal Lambat bisa 2 atau 3 jam.

karena kami menggunakan kapal cepat, maka dalam 1 jam telah berlabuh di Sabang, hari hujan saat itu, Sabang adalah kota kabupaten, geliat pembangunannya terlihat lamban, sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dengan Nelayan, berdagang, dan selebihnya adalah Pegawai Pemerintah, kotanya tidaklah besar, pulaunya dikelilingi oleh laut, tetapi daratannya tidaklah rata melainkan berbukit-bukit, dan ada beberapa pulau-pulau kecil lainnya, banyak pohon kelapa tumbuh tinggi dengan buah yang banyak, bahkan ada satu pulau yang tidak berpenghuni banyak berisi pohon kelapa, hingga buahnyapun tidak bisa dimanfaatkan.

Pulau Sabang juga mengandalkan bidang pariwisata pantai untuk pendapatannya, banyak resort di sana, namun pengelolaannya belum maksimal, banyak resort yang kurang terawat karena mungkin tidak banyak wisatawan datang, tetapi banyak wisatawan Bule yang menyukai satu daerah untuk menyelam disana, dan jika kita amati justru para bule ini senang tinggal di resort sederhada yang terletak di tengah hutan yang jauh dari kota.

Nah... saya sangat ingin mengunjungi tempat wisata yang paling terkenal di sana yaitu: Kilo Meter 0, yaitu tugu pertanda dimulainya penghitungan luas wilayah Indonesia, dari sinilah 0 Kilo Meter itu hingga nanti sampai di wilayah paling timur yaitu di Merauke, ditandai dengan sebuah tugu dan juga prasasti.




 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar